Sabtu, 07 Februari 2015
Panas Dingin Yang Menyiksa
Hari ini dan kemaren adalah hari yang cukup menyiksa. Tubuh panas dingin. Membuat gue uring-uringan seharian. Berikut kisahnya.
Tanggal 6 Februari 2015, gue merasa gak enak badan. Tubuh panas dingin, gigi nyut-nyutan, disertai sakit kepala. Komplitlah penyakit berkesinambungan ini. Kenapa berkesinambungan? Karena sakit gigi diikuti panas dingin dan sakit kepala. Gue teringat perkataan mama gue, ini bisa jadi gejala darah tinggi. Ah, mudah-mudahan tidak. Sakit kepalanya gak terlalu sakit, hanya sedikit nyut-nyutan. Gigi juga sedikit nyut-nyutan. Tapi panas dingin ini seolah gak ada toleransi dengan penderitaan yang gue rasakan.
Entah kenapa hal ini terjadi. Gue pun mulai mengingat apa yang terjadi belakangan ini. Satu hari sebelumnya (5/2/15) gue makan nasi padang. Setelah selesai makan, gigi mulai 'menggeliat'. Gak terlalu sakit sih, tapi cukup mengganggu. Keesokan harinya (6/2/15), setelah diusik oleh gigi yang menggeliat, gejala demam mulai menyerang. Disusul dengan sakit kepala. Lengkap sudah. Bodrex gue rasa bisa menjadi obat yang cocok. Karena bodrex bisa mengobati sakit kepala, demam, dan sakit gigi.
Setelah beberapa jam, tidak ada ada perubahan sama sekali. Puncaknya tadi malam selepas magrib, anomali suhu tubuh mulai menyerang. Suhu tubuh mulai terasa sangat panas, namun di satu sisi gue menggigil karena merasa kedinginan. Kepala dan gigi kembali nyut-nyutan. Sakit kepala gak seberapa, tapi panas dingin ini sangat mengganggu. Mata udah gak mulai fokus menatap layar laptop. Semakin lama semakin terasa sakit hingga mengeluarkan air mata. Akhirnya tiduran sebentar. Apa daya. Tidak bisa tidur!
Tubuh gue terkena sedikit tiupan angin langsung menggigil. Di satu sisi malah kepanasan yang amat sangat. Oh Tuhan. Dosa apa gue?
Selama berapa lama, gue mencoba mendengarkan musik. Lumayan membantu mengurangi siksaan ini. Namun tidak lama. Siksaan itu kembali lagi.
Jam 1 dini hari tadi, gue mencoba tidur lagi. Tak lupa minum 1 pil bodrex. Seolah tak direstui si tubuh, gue gak bisa tidur. Karena merasa kedinginan, gue menutup seluruh tubuh gue kecuali kepala dengan selimut. Lumayan enakan. Masalah lain mucul. Detakan jantung gue malah semakin kencang. Ditambah oleh orang kamar sebelah maen FIFA. Berisiknya minta ampun. Mana bisa tidur kalo kayak gini.
Jam 2.30. Panas dingin yang amat menyiksa masih betah berada di tubuh gue, gue teringat sebuah artikel. Kalo merasa panas dingin (demam), minumlah air putih sebanyak mungkin. Dan akhirnya gue coba minum 2 gelas air putih.
Mencoba untuk tidur lagi. Selimut kembali ditarik menutup tubuh gue. Mayan enakan. Waktu terus berlalu. Detik demi detik bergantian menyambut pagi nan dingin ini. Keringat sedikit demi sedikit mulai keluar. Panas dingin tetap terasa. Suara berisik temen sebelah masih mengganggu tidur gue. Makin lama makin banyak keringat yang keluar. Jantung tetap berdetak kencang. Sembari memikirkan dosa apa yang gue perbuat. Yang gue tau, sakit itu menghapus dosa. Gak semua dosa, yaa setimpal lah dengan sakit yang dialami.
Di saat seperti itu pula, gue teringat mama di kampung. Saat sakit seperti ini mama adalah obatnya. Gue merasa sangat ini pulang. Ingin dekat dengan orang tua. Makan makanan buatan mama. Entah kenapa kalo deket dengan mama/ibu, sakitnya sedikit berkurang.
Sekitar setengah jam berlalu, tubuh gue dipenuhi tetesan keringat. Alhamdulillah, udah merasa enakan.
Di saat tubuh mulai enakan, masalah lain muncul. Perut berbunyi minta diisi. Lah, mau makan apa? Jam segini warung deket kosan udah pada tutup. Akhirnya mencoba menahan lapar. Lagi-lagi gue kalah. Perut lebih berkuasa.
Akhirnya gue mengenakan jaket, pergi ke Indomaret. Beli pop mie. 2 pop mie ukuran normal dan 1 pop mie mini. Sebenarnya gue pengen beli roti dan susu. Tapi tubuh gue butuh panas agar tubuh keringat.
Sekembalinya dari Indomaret, gue langsung menyeduh pop mie. Awalnya menyeduh pop mie ukuran normal. Setelah mienya matang, gue langsung melahap pop mie. Jaket masih menempel di badan. Sengaja. Dengan harapan keringat yang keluar semakin banyak.
Pop mie yang masih mengebul langsung gue lahap. Harapan gue terkabul. Keringat mulai keluar. Semakin lama semakin banyak. Jaket yang gue pake langsung basah. Keringat yang keluar seperti keringatan sehabis olahraga.
Gue pengen lebih. 1 pop mie mini gue seduh. Dan hap! Pop mie abis dalam beberapa kali suapan. Keringat yang keluar semakin banyak dan gak mau berhenti. Seluruh pakaian yang gue kenakan basah. Inilah yang gue inginkan.
Akhirnya tubuh gue jauh lebih enakan. Gak merasa panas dingin lagi. Alhamdulillah..
Yaa, beginilah seharusnya. Kalo merasa panas dingin, carilah atau lakukan sesuatu yang menimbulkan keringat. Agar suhu tubuh kembali normal. Kalo di rumah biasanya gue makan indomie rebus pedas. Biar hasilnya maksimal.
Jam 4 subuh, tubuh gue udah mendekati kata sehat. Dan akhirnya gue menyalakan laptop dan menulis tulisan ini.
Sebenarnya hal ini gak perlu diposting, tapi gue merasa hal ini perlu dikeluarkan agar bisa melegakan hati kecil ini.
7 Februari 2015 jam 4.42, rasa kantuk kembali menyerang. Terdengar kumandang azan subuh.
Selamat pagi dunia..
Label:
Gue
0
komentar
Jumat, 30 Januari 2015
Harus Melihat Dari Sisi Lain
Di sebuah perkumpulan, komunitas, atau sejenisnya lah, kadang-kadang mereka melihat sesuatu di luar lingkungan hanya dari sudut pandang mereka sendiri tanpa memikirkan kelakuan dan pandangan dari lingkungan lain.
Jika ada yang sesuatu yang hebat maka mereka menganggap hal itu adalah kepunyaan mereka. Padahal di dunia ini sangat banyak kemungkinan yang terjadi. Bisa terjadi dari siapa dan untuk siapa selama mereka masih berhubungan satu sama lain.
Dalam hal berbagi, pihak yang memberi tentu akan memberikan hak yang sama. Memberikan keadilan agar orang-orang yang menerimanya akan merasa senang. Tak ada yang merasa iri. Namun, di satu sisi ada yang beranggapan kalo yang diberikan kepadanya adalah hal yang lebih dari orang lain. Kenyataannya sama saja. Tak ada yang berbeda. Itu terjadi karena mereka melihat dari sudut pandang mereka sendiri. Bukalah mata. Karena di luar sana masih banyak yang melakukan hal yang sama dengan apa mereka lakukan. Jangan anggap apa yang 'dia' lakukan hanya 'untukmu' saja.
Dan saya harus memahami hal itu. Karena itu adalah kepuasan yang mereka cari. Kepuasan dalam menikmati ragam corak dunia. Tak bisa dipungkiri saya juga menikmatinya. Tapi harus mengerti apa yang terjadi merupakan sebuah rutinitas dan kewajiban yang harus dilakukan. Bukan sebuah pemberian yang diberikan kepada saya saja. Semua berhak memperolehnya.
Mengertilah atas apa yang 'dia' lakukan. Bukan semata untukmu. Untuk orang lain juga. Tanpa keadilan akan ada kecemburuan massal.
Pahamilah atas apa yang 'dia' lakukan. Harus bisa melihat dari sudut yang berbeda. Jangan tenggelam di kolam buatanmu sendiri..
Label:
Lifestyle,
Other
0
komentar
Selasa, 06 Januari 2015
Dikala Waktu Mengubah Kenyamanan
Belakangan gue memikirkan hal yang seharusnya tidak dipikirkan. Sebuah pikiran yang sama sekali tidak bisa menjelaskan apa maksud dari semua kegilaan ini. Kehadiran pikiran tersebut cukup mengganggu, bikin galau gitu.. *halah
Perlu diingat, ini hanyalah sebagian kecil dari bagian hidup yang gue jalani saat ini. Bukan secara keseluruhan. Do you understand? Gue tidak. Entah benar entah tidak. Kira-kira beginilah ceritanya..
Beberapa waktu yang lalu, tak tahu persis tepatnya kapan, aku menemukan sesuatu yang bisa membuat sebagian orang gila. Yang diawali dengan sebuah undangan untuk dipenuhi. Aku menyanggupinya. Dan pada akhirnya ku tak tau, pintu keluarnya sangat sulit untuk dicari. Kalaupun ditemukan sangat sulit untuk diraih.
Perlahan tapi pasti aku membentuk sebuah kenyamanan yang mana kenyamanan tersebut untuk diriku juga. Karena untuk memulai sesuatu yang baru aku harus membuatnya nyaman untuk dinikmati. Tanpa kenyamanan maka tak ada cita rasa yang sudah disuguhi. Tanpa kenyamanan, proses yang dilalui tidak akan bermakna.
Semua yang aku kerjakan selama ini membuahkan hasil. Aku menikmati momen yang sudah ku bilang tadi, membuat sebagian orang gila dalam imajinasi tanpa batas. Merasakan dentingan nada yang dia(mereka) alunkan di setiap hari. Membaca kata demi kata di berbagai media sosial. Tertawa dalam canda yang terus terjadi setiap hari. Tiada hari tanpa kesenangan.
Dia ada saat aku mulai memasuki pintu kegilaan tersebut. Mengamati apa yang dilakukannya. Rasa penasaran mulai merasuki jiwa. Siapa dia dan bagaimana latar belakangnya. Aku menelusuri jejak rekam yang ada di dunia maya. Bagaimana sepak terjang dia di dunia hiburan. Dan apa tujuannya untuk masuk ke dalam dunia hiburan yang penuh delusi.
Sedikit demi sedikit aku menemukannya. Info dari berbagai sumber, tak berhubungan langsung, namun jika diperhatikan dengan baik akan ada benang merah yang ditemukan. Dengan menggunakan analisa, akan ditemukan jawaban yang selama ini aku cari. Dan mulai memahami seperti apa karakternya. Walaupun sangat sedikit.
Dia begitu dan aku harus begini. Aku harus menyesuaikan dengan keadaan tersebut. Ketika bertemu dengannya seketika jantung berdetak kencang tak karuan. Ooh Tuhan, mengapa aku begini? Sejauh inikah aku melangkah ke dalam dunia kegilaan ini?
Aku terus menikmati yang sedang terjadi. Aku harus paham dengan segala konsekuensinya.
Sekarang memang waktunya menikmati kenyamanan yang sudah lama aku rasakan. Terjebak dalam lembah delusi. Aku sudah mengganggapnya lebih dari yang sebelumnya. Sudah merasuk ke relung hati. Dia sudah menjadi bagian dari keseharian di tengah ibukota nan ganas. Aku udah nyaman dengan keadaan seperti ini.
Satu hal yang tak bisa dilawan adalah waktu. Waktu berjalan terus tanpa henti tak tertahankan. Berjalannya waktu membuat manusia mengalami perubahan. Yang tadinya kecil beranjak dewasa. Yang tadinya SMA sekarang mulai memasuki dunia perkuliahan. Yang tadinya remaja yang penuh kebebasan sekarang udah menjadi orang tua dari anak-anaknya.
Begitu pula dengannya. Sekarang dia udah berada di penghujung sekolah menengah atas. Di pertengahan tahun ini dia akan mulai merambah dunia kuliah dengan jurusan yang diidamkan dari kecil. Menjadi perantara antara Tuhan dan orang sakit.
Jika dia udah bertekad untuk menjadi itu, maka kesibukan di luar sekolah yang dia jalani saat ini akan terganggu. Kuliah di jurusan tersebut bukanlah perkara mudah. Karena waktu untuk belajar lebih banyak ketimbang waktu luang. Jika dia tidak bisa mengatur waktunya dengan baik, maka keluar dari grup yang dijalani sekarang adalah solusinya.
Sebagian orang tidak bisa membagi fokusnya dalam 2 bidang yang ditekuninya. Hanya beberapa orang yang berhasil membagi waktunya dengan baik. Harus dipilih satu di antara dua pilihan. Jika dia memilih tempat terdekat dengan ibukota untuk menuntut ilmu, masih ada kmungkinan dia akan bertahan. AH, ini gila. Bener-bener gila.. ARGH!!
Menjadi dilema juga. Karena hiburan ini bukanlah sebuah hiburan biasa. Karena ini masalah kecocokan hati dengan sang penghibur. Jika dia pergi maka ini akan mengubah kenyamanan yang aku rasakan sekarang. Tak bisa dipungkiri dia adalah salah satu alasan bisa bertahan di sini. Dia pergi aku kan pergi juga.
Hal ini cukup mengangguku. Pertanyaan yang sering muncul di benakku, apakah dia akan bertahan lama di sini? Kuharap dia tak pergi (seenggaknya tidak dalam waktu dekat ini). Kuharap dia bisa mengatur waktu di dunia hiburan dan perkuliahan secara baik. Karena ku tau, dia adalah seseorang yang pintar dan cerdas.
Aku begini karena aku sudah terlalu dalam menyelam ke dalam palung samudera yang dimilikinya. Tak mudah untuk mencapai permukaan. Sangat ingin muncul ke permukaan dan melepaskan semua kegilaan ini. Hanya waktu yang akan menjawabnya. Dan berharap kita mendapatkan terbaik..
Keluarkan aku dari kegilaan ini.
Label:
Galau,
Gue
0
komentar
Sabtu, 01 November 2014
Menuangkan Ke Dalam Tulisan
Begitu
banyak bahan penulisan yang ingin dituangkan. Satu demi satu melintas
seiringnya berjalannya waktu. Tumpang tindih dan kadang saling bertautan
satu sama lain. Untuk membentuk sebuah kisah.
Saking banyaknya yang ingin dituangkan, sampai-sampai pikiran yang sudah ada menghilang begitu saja. Begitu tiba saat untuk menuangkannya ke dalam tulisan, tiba-tiba saja pikiran itu menghilang dan blank. Damn!!
Pikiran itu berlalu sangat cepat di dalam benakku. Bagaimana mungkin aku bisa mengikuti pikiran sebanyak itu melintas dengan sangat cepat?
Kadang menikmatinya berlalu lalang di otakku adalah sebuah cara untuk mengaturnya lagi. Hanya saja aku tak memiliki waktu untuk itu.
Saking banyaknya yang ingin dituangkan, sampai-sampai pikiran yang sudah ada menghilang begitu saja. Begitu tiba saat untuk menuangkannya ke dalam tulisan, tiba-tiba saja pikiran itu menghilang dan blank. Damn!!
Pikiran itu berlalu sangat cepat di dalam benakku. Bagaimana mungkin aku bisa mengikuti pikiran sebanyak itu melintas dengan sangat cepat?
Kadang menikmatinya berlalu lalang di otakku adalah sebuah cara untuk mengaturnya lagi. Hanya saja aku tak memiliki waktu untuk itu.
Label:
Gue
2
komentar
Jumat, 31 Oktober 2014
Menentukan Pilihan
Masa lalu adalah cetakan masa depan. Menjadi patokan untuk menentukan pilihan. Kadangkala ada yang memilih itu karena ada kesamaan dengan masa lalu. Bisa dibilang gak bisa move on. Namun, kadang-kadang ada sesuatu yang bisa menjadi penentu pilihan. Deja vu.
Pada satu kesempatan, memilih sesuatu karena ada sebuah penglihatan yang pernah diliat pada masa lalu. Dan akhirnya bisa disaksikan pada saat ini. Sehingga tanpa ragu memilih sesuatu yang telah ada pada masa lalu. Hal itu sering terjadi. Bukan gak bisa move on. Cuma udah terlanjur nyaman dan udah terlanjur 'srek' dengan pilihannya.
Label:
Other
0
komentar
Langganan:
Postingan (Atom)


